Apa itu Bersyukur Dan Mengapa Sangat Penting?

bersyukur

Di update pada

Terdapat berbagai hal yang dapat menyulap perasaan positif atas penghargaan dan rasa syukur yang dapat membimbing orang menuju sebuah makna dan kesehatan yang lebih baik.

Tanamkan kebiasaan bersyukur untuk setiap kebaikan yang datang pada Anda, dan berterima kasihlah terus menerus, dan karena semua hal yang telah berkontribusi pada kemajuan Anda, Anda harus memasukkan semuanya dalam rasa terima kasih dan syukur Anda.

Ralph Waldo Emerson

Emerson menawarkan penghantar yang bermanfaat seperti bagaimana praktik bersyukur itu, artikel ini akan mulai dari sana dilanjutkan dengan mengeksplorasi banyak penelitian psikologis saat ini di balik nilai dan manfaat dari bersyukur.

Rasa syukur adalah sebuah emosi yang mirip dengan penghargaan (apresiasi) dan penelitian dari positive psychology telah menemukan alasan neurologis mengapa begitu banyak orang merasakan banyak manfaat dari praktik umum ini yaitu menyatakan raya syukur dan terima kasih atas kehidupan kita, bahkan di waktu saat ini yang penuh dengan tantangan dan juga perubahan.

Untuk memulainya, kita perlu memperoleh definisi apa yang dimaksud dengan “Bersyukur.”

Apa itu Bersyukur?

Bersyukur

Banyak dari kita mengekspresikan rasa syukur dengan mengucapkan “terima kasih” kepada sesorang yang telah membantu kita atau memberi kita sebuah hadiah, namun, dari perspektif ilmiah, rasa syukur bukan cuma sekedar sebuah tindakan, rasa syukur juga merupakan sebuah emosi positif yang melayani sebuah tujuan biologis.

Rasa syukur lebih dari sekedar perasaan berterima kasih, tapi sebuah penghargaan yang lebih dalam terhadap seseorang atau sesuatu yang dapat menghasilkan efek positif yang bertahan lama.

Sebelum melanjutkan dengan definisi utama dari bersyukur, berikut kami sampaikan 10 definisi dari berbagai konteks budaya dan tentang bagaimana istilah tersebut telah berubah dari masa ke masa.

10 Arti Atau Definisi Syukur Dari Berbagai Sumber

Bersyukur

Menurut kamus Merriam-Webster, rasa syukur hanyalah suatu “keadaan bersyukur.”

Harvard Medical School memberikan penjelasan lebih detail, bahwa rasa syukur adalah :

Sebuah penghargaan dengan berterima kasih atas apa yang diterima oleh seseorang, baik berwujud atau tidak berwujud. Dengan berterimakasih dan bersyukur orang mengakui sebuah kebaikan dalam kehidupan mereka … Sebagai hasilnya, rasa bersyukur juga membantu tiap orang untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri sebagai seorang individu, baik orang lain, alam atau suatu kekuatan yang lebih tinggi.

Hal ini memberikan kita konteks yang lebih bermanfaat yang membawa kita kepada definisi berikutnya dari para peneliti pskiatri, yang mendefinisikan rasa syukur sebagai :

Apresiasi atas sesuatu yang berharga dan bermakna bagi diri sendiri dan mewakili kondisi umum dari rasa berterima kasih dan/atau penghargaan

Sansone & Sansone, 2010

Para peneliti juga menawarkan definisi sebagai berikut :

Sebuah emosi yang biasanya ditimbulkan ketika seseorang menerima manfaat yang berharga, tidak terduga dan secara sengaja diberikan serta memainkan peran kunci dalam mengatur inisiasi dan pemeliharaan hubungan sosial.

Forster et al., 2017

Definisi sederhana lain tentang rasa syukur yang berasal dari penelitian psikologi adalah :

Sebuah emosi sosial yang menandakan pengakuan kita tentang hal-hal yang dilakukan orang lain untuk kita.

Fox et al., 2015

Definisi ini penting karena membawa elemen sosial kedalam definisi rasa syukur.

Rasa syukur di lihat dari aspek sosial menurut seorang teolog :

Jika kita memperoleh sesuatu melalui pertukaran, dengan upaya atau pencapaian atau dengan benar, maka biasanya kita tidak merasa bersyukur. Bersyukur adalah sebuah emosi yang kita rasakan sebagai respons terhadapa menerima sesuatu yang baik yang sebenarnya tidak seharusnya kita terima.

Lacewing, 2016

Definisi lain yang menekankan aspek sosial dari para peneliti psikologi sosial :

Rasa syukur adalah emosi yang diputuskan secara positif yang dapat muncul ketika orang lain – dermawan- melakukan sesuatu yang baik untuk diri sendiri.

Algoe et al., 2016

Seorang psikolog moralitas menulis bahwa :

Rasa syukur bukan seperti barang yang dikirim sebagai respon atas pembayaran. Ini adalah respon terhadap sebuah pemberian … Syukur, sebagai respon terhadap sebuah pemberian juga merupakan sebuah bentuk dari kemurahan hati dengan anggun menghargai yang lain untuk sesuatu yang tidak terutang.

Roberts, 1991

Untuk dapat memahami lebih jauh, Robert Emmons menawarkan definisi penelitian psikologisnya, bahwa bersyukur :

Telah di konseptualisasikan sebagai sebuah emosi, kebajikan, sentimen moral, motif, respon koping dan sikap. Minimal, rasa syukur adalah sebuah respon emosional terhadap sebuah pemberian. Ini adalah rasa apresiasi yang dirasakan setelah seseorang menjadi penerima manfaat dari sebuah tindakan altruistik.

Emmons & Crumpler, 2000

Emmons menjelaskan rasa syukur yang lebih mendalam pada makalah lainnya, dia (bersama rekan penulisnya Robin Stern) mengatakan bahwa :

Rasa syukur memiliki dua makna, makna duniawi dan makna transenden, dalam pengertian duniawinya, rasa syukur adalah perasaan yang muncul dalam pertukaran antar pribadi ketika seseorang mengakui bahwa menerima manfaat berharga dari orang lain. Rasa syukur adalah suatu keadaan kognitif-afektif yang biasanya dikaitkan dengan persepsi bahwa seseorang telah menerima manfaat pribadi yang tidak sengaja dicari, layak atau diperoleh melainkan karena niat baik orang lain.

Emmons & Stern, 2013

Kami berharap definisi dari rasa syukur ini dapat memberikan berbagai konteks dari aspek psikologi, sosial dan agama terhadap emosi yang positif ini, apakah Anda setuju dengan semua definisi diatas atau cocok dengan salah satunya, kita sekarang telah di perlengkapi untuk lebih menggali perannya yang lebih besar dalam kesehatan dan kehidupan sehari-hari.

Singkatnya, raya syukur adalah sebuah emosi positif yang dirasakan setelah menjadi penerima dari sesuatu semacam pemberian, ini juga merupakan sebuah emosi sosial yang di arahkan kepada seseorang (orang yang memberi) atau perasaan yang ditujukan pada suatu kekuatan yang lebih tinggi.

Dua Tahapan Dari Bersyukur

Bersyukur

Menurut Dr. Robert Emmons, perasaan syukur melibatkan dua tahap (2003) :

  1. Pertama, datangnya pengakuan terhadap kebaikan dalam kehidupan seseorang. Dalam keadan bersyukur, kita selalu mengatakan YA dalam hidup, kita menegaskan bahwa secara keseluruhan, hidup itu baik dan memiliki berbagai elemen yang membuat hidup menjadi berharga. Pengakuan bahwa kita telah menerima sesuatu yang memuaskan kita, baik dengan kehadirannya atau terhadap upaya yang telah dilakukan oleh pemberinya.
  2. Kedua. rasa syukur mengenali bahwa beberapa sumber kebaikan ini berada di luar diri,. Seseorang dapat bersyukur kepada orang lain, kepada hewan dan kepada dunia tetapi tidak kepada diri sendiri, pada tahap ini, kita mengenali kebaikan dalam hidup kita kepada siapa kita menyatakan syukur, misalnya, siapakah orang yang telah berkorban sehingga membuat kita bahagia?

Dua tahap syukur terdiri dari pengakuan akan kebaikan yang ada dalam hidup kita dan kemudian bagaimana kebaikan ini bisa datang kepada kita, dengan proses ini kita dapat mengenali keberuntungan dari apa saja yang dapat membuat hidup kita dan juga diri kita sendiri menjadi lebih baik.

Tujuan Dari Emosi Ini

Bersyukur

Orang dapat menggunakan rasa syukur dan terima kasih untuk membentuk sebuah hubunagn sosial yang baru atau untuk memperkuat hubungan sosial yang sudah ada.

Tindakan dari rasa berterimakasih dapat digunakan untuk meminta maaf, menebus suatu kesalahan dan juga untuk membantu memecahkan masalah lainnya.

Atau, orang mungkin bisa merasa ramah dan penuh syukur karena ini bisa menjadi sebuah proses yang secara intrinsik seperti memberikan sebuah penghargaan, hanya dengan bersyukur karena masih hidup adalah sebuah cara yang bagus untuk memotivasi diri sendiri di tiap harinya, gagasan bahwa hari esok belum tentu ada adala sebuah motivasi yang kuat bagi sebagian orang untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka pada hari ini.

Mengapa Bersyukur Terbukti Efektif

Bersyukur atau berterima kasih adalah sebuah tindakan tanpa pamrih, tindakan yang dilakukan tanpa syarat, untuk menunjukkan pada seseorang bahwa mereka telah dihargai, “Hadiah yang diberikan secara gratis” adalah salah satu cara untuk memahami arti dari tindakan ini.

Sebagai contoh, ketika seseorang sedang sedih dan Anda menulis sebuah pesan yang isinya untuk menghargai mereka, kemungkinan besar Anda tidak meminta sesuatu sebagai sebuah imbalan untuk perbuatan Anda terhadap orang tersebut, sebaliknya Anda mengingatkan mereka akan nilai yang mereka miliki dan mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas keberadaan mereka, pada saat ini Anda tidak sedang menunggu sebuah catatan untuk pengembalian dari orang tersebut.

Bahkan ketika kita tidak mengharapkan sebuah pengembalian atau balasan, kadang-kadan hal itu terjadi dengan sendirinya, rasa syukur bisa menular, dengan cara yang baik, seperti contoh tadi, ketika Anda yang sedang mengalamai down, mungkin orang tersebut akan juga menulis pesan untuk Anda.

Berikut adalah dua proses yang dapat di pengaruhi oleh rasa syukur.

1. Katarsis

Catharsis adalah sebuah proses dimana seorang indiveidu melepaskan emosi yang kuat, sebagai contoh, setelah mengalami sebuah peristiwa stres ataupun traumatis, menangis memberikan cara untuk terjadinya sebuah pelepasan yang kuat, menghasilkan sebuat aktivitas catharsis, catharsis bekerja dengan rasa syukur.

Untuk mengilustrasikan ini, pertimbangkan rasa bersalah yang berkaitan dengan “kegagalan” dalam memenuhi kewajiban, mungkin dalam situasi ini Anda akan mengekspresikan perasaan syukur kepada orang yang telah Anda kecewakan, dalam upaya untuk melepaskan rasa bersalah tersebut.

Perbuatan ini di maksudkan untuk menyampaikan penghargaan, meskipun ada kekecewaan yang baru saja terjadi, penggunaan rasa syukur dan berterimakasih berfungsi sebagai sebuah age catharsis (katarsis), dimana kedua puhak pada akhirnya akan merasa puas.

2. Timbal Balik

Timbal balik, sebagai sebuah konsep dari psikologi sosial, adalah tentang pertukaran tindakan, dalam hal ini adalah tentang pertukaran emosi positif, ketika seseorang melakukan sebuah tindakan bersyukur untuk orang lain, pada gilirannya, orang lain tersebut mungkin termotivasi untuk juga melakukan sesuatu yang baik untuk orang sebelumnya atau melanjutkan kebaikannya pada orang asing.

Bayangkan saat minum kopi atau makan bersama teman dan mereka dengan sopan untuk membayar, Anda mungkin berdalih untuk membagi tagihannya, tetapi mereka biasanya tetap bersikeras, Anda kemungkinan akan merasa bersyukur dan tugas Anda adalah membayar untuk makan siang selanjutnya, pada intinya, seperti inilah cara kerja timbal balik.

Sifat atau Kondisi

Rasa syukur dianggap sebagai suatu sifat (disposisi) atau suatu keadaan (menjadi).

Sebagai suatu sifat, seorang individu mempraktikkan rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002) dan itu akan di anggap sebagai sebuah kekuatan karakter seseorang dalam hal memiliki rasa syukur, sebagai sebuah sifat, rasa syukur dapat terus dilatih dan dikembangkan dengan praktik dan membangun kesadaran (Peterson, & Seligman, 2004).

Ketika seseorang mengalami suatu emosi yang kaya rasa dari seseorang yang mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih pada mereka, itu disebut dengan kondisi (Watkins, Van Gelder, & Frias, 2009), syukur adalah keduanya, sifat dan kondisi.

Keadaan atau kondisi bersyukur adalah pengalaman yang menyenangkan dan telah dipelajari sejak lama oleh para filsuf pada zaman kuno, bagian ini memberikan konteks yang lebih luas tentang bagaimana emosi ini berfungsi secara historis pada pola pikir orang dan masyarakat.

Perspektif Filosofis Tentang Rasa Syukur

filosof

Setidaknya selama 2000 tahun, para intelektual telah mempertimbangkan akan peran penting rasa syukur di dalam kehidupan sehari-hari, para filosof kuno dan juga para filosof yang tidak terlalu kuno, seperti cicero, Seneca dan Adam Smith, mengajarkan betapa pentingnya bersyukur (Fox et al., 2015; McCullough et al., 2002), Cicero dan Seneca menganggap berterima kasih dan bersyukur sebagai bentuk kebajikan yang utama bagi setiap peradaban yang sukses.

Agar lebih jelas, bukan hanya para filsuf kuno yang tertarik pada rasa syukur sebagai sebuah bentuk kebajikan, beberapa tahun terakhir, beberapa makalah menggambarkan rasa syukur dari perspektif psikologis-filosofis serta dari perspektif filosofis langsung (Jackson, 2016; Kristjansson, 2015; Moran, 2016; Morgan et al., 2017).

Jika rasa syukur merupakan sebuah emosi dasar manusia maka masuk akal mengapa manusia telah mempelajarinya selama ribuan tahun, rasa syukur sangat bermanfaat bagi spesies kita.

Perspektif Agama dan Spiritual Tentang Rasa Syukur

Bersyukur

Tidaklah mengherankan jika gerakan keagamaan dan spiritual juga mengeksplorasi rasa syukur ini, Buddhisme, Kristen, Islam dan Yahudi adalah agama utama didunia yang memiliki banyak tulisan tentang hal ini.

Secara historis, banyak agama yang merujuk pada rasa syukur karena kebutuhan untuk bersyukur terhadap kekuatan yang lebih tinggi, lebih dari itu, Kekristenan, Islam dan Yudaisme menekankan rasa syukur sebagai langkah terpadu untuk menuju sebuah kehidupan yang lebih baik.

Misalnya, dalam Yudaisme, para pengikut Yahweh didorong untuk memulai hari dengan bersyukur karena telah bangun kembali, beberapa psikolog percaya bahwa Kekristenan sebagai contoh lainnya menggabungkan “rasa syukur kepada Tuhan” yang telah mengikat banyak orang kristen untuk bersama.

Bagi Islam, tujuan dari shalat lima waktu bukanlah untuk meminta apapun kepada Allah, tetapi sebaliknya, untuk menunjukkan rasa terima kasih dan syukur kepada Allah, ketiga agama ini menawarkan peran untuk rasa syukur yang unik, secara keseluruhan bersyukur pada keberadaan saat ini dan bersyukur kepada siapa yang telah mencipatakannya.

Dalam tulisan-tulisan Buddha Theravada yang lebih tua, rasa syukur menghubungkan para praktisi dengan masa lalu mereka, pada saat ini, rasa syukur dan konsep karma adalah kekuatan pendorong di balik Buddhisme filantropis di Tiongkok, seperti agama Kristen, Islam dan Yudaisme, rasa syukur juga memainkan peran unik dalam agama Buddha secara historis dan juga saat ini.

Perspektif Psikologis Modern tentang Rasa Syukur

psikolog

Baru-baru ini, positive psychology telah memperluas penelitian tentang pentingnya rasa syukur, penelitian ini sebagian besar dipimpin oleh Robert Emmons.

Emmons telah menulis beberapa naskah tentang psikologi dari rasa syukur, menunjukkan bahwa dengan menjadi lebih bersyukur dapat menyebabkan peningkatan pada tingkat kesejahteraan.

Beberapa karya Emmons juga telah membahas secara khusus rasa syukur dalam lingkungan keagamaan dan menyoroti bagaimana perasaan bersyukur terhadap kekuatan yang lebih tinggi dapat menyebabkan peningkatan pada kesehatan fisik.

Berikut rangkuman dari sembilan temuan psikologis baru-baru ini terkait dengan studi rasa syukur :

1. Peningkatan Kesejahteraan

kesejahteraan

Mengekspressikan rasa terima kasih dan rasa syukur dapat meningkatkan rasa kesejahteraan secara menyeluruh, orang yang sering bersyukur akan menjadi orang yang lebih menyenangkan dan lebih terbuka.

Selain itu, rasa syukur juga berhubungan terbalik dengan depresi, dan beriringan dengan kepuasan hidup, ini bukan dalam rangka mengatakan bahwa “orang yang depresi” harus lebih banyak bersyukur, karena depresi merupakan penyakit yang lebih rumit dari kelihatannya dan jutaan orang berjuang tiap harinya, namu mungkin, praktik syukur ini dapat menjadi bagian dari terapi dan perawatan bagi para penderita dan sedang berjuang dengan depresi.

2. Hubungan Yang Lebih Dalam

hubungan

Rasa terima kasih dan syukur juga merupakan sebuah alat yang ampuh untuk memperkuat hubungan interpersonal, orang yang mengucapkan rasa syukur dan terima kasih mereka satu sama lain cenderung menjadi orang yang lebih memaafkan dan lebih tidak narsis.

Berterima kasihlah pada mereka yang telah memberi bantuan pada Anda dapat memperkuat hubungan Anda dan menjaga hubungan begitu juga dengan kepuasan dalam hubungan.

3. Meningkatkan Optimisme

optimisme

Dr. Emmons dan Dr. McCullough melakukan sebuah penelitian pada tahun 2003 akan dampak dari praktik bersyukur, setelah 10 minggu penelitian mereka menemukan bahwa orang yang fokus pada rasa syukur dan terima kasih menunjukkan munculnya lebih banyak optimisme dalam banyak bidang kehidupan mereka, termasuk dengan kesehatan dan olahraga.

Ketika orang optimis tentang kesejahteraan dan kesehatan mereka cenderung bertindak sesuatu yang baik dan mendukung gaya hidup mereka.

4. Peningkatan Kebahagiaan

kebahagiaan

Toepfer, Cichy, dan Peters (2011) melakukan penelitian dengan meminta orang untuk menulis lalu mengirimkan surat kepada seseorang yang mereka syukuri, setelah melakukan tugas yang di berikan, tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup mereka sangat tepengaruh dan meningkat, bahkan setelah berminggu-minggu kemudian.

Dalam mengejar kebahagiaan dan kepuasan hidup, rasa syukur menawarkan efek yang jangka panjang dan bekerja seperti umpan balik, dengan demikian, semakin banyak rasa syukur dan terima kasih yang kita alami serta ungkapkan maka semakin banyak situasi dan orang yang mungkin kita temui yang akan melakukan rasa terim kasihnya pada kita.

5. Pengendalian Diri Yang Lebih Kuat

pengendalian diri

Kontrol diri sangat membantu disiplin dan fokus kita, pengendalian diri memiliki manfaat kesejahteraan jangka panjang, misalnya, menolak nikotin yang terdapat pada rokok bagi seseorang yang sedang berjuang untuk berhenti merokok, pengendalian diri membantu kita agar tetap pada “pilihan yang lebih baik” demi kesehatan jangka panjang, masa depan finansial dan kesejahteraan kita secara menyeluruh.

Sebuah studi penelitian dari DeSteno et al, pada tahun 2014, menemukan bahwa kontrol diri meningkat secara signifikan ketika subjek memilih rasa syukur dibanding dengan kebahagiaan atau rasa netral, salah satu penulis di penelitian ini, Profesor Ye Li, mengatakan :

Menunjukkan bahwa emosi dapat menumbuhkan kendali diri dan menemukan cara untuk mengurangi ketidaksabaran, dengan latihan bersyukur yang sederhana dapat membuka kemungkinan yang luar biasa untuk mengurangi berbagai jenis penyakit masyarakat dari pembelian yang impulsif dan tabungan yang sedikit untuk masyarakat yang mengalami obesitas juga perokok.

Profesor Ye Li

Bersyukur dapat memberi kita tekad yang kita butuhkan untuk membuat pilihan-pilihan hidup yang dapa melayani kita, secara emosional dan fisik, dalam jangka panjang, seperti yang di tekankan dalam studi ini, ada begitu banyak jenis aplikasi dalam menggunakan rasa syukur dan terima kasih sebagai jalam menuju manusi dan komunitas yang lebih sehat.

6. Kesehatan Fisik dan Mental Yang Lebih Baik

kesehatan

Penelitian pada tahun 2015 menunjukkan bahwa pasien dengan kasus gagal jantung yang nebgerjakan dan menyelesaikan jurnal syukr dan terima kasih memiliki tinglat peradangan yang berkurang, peningkatan kualitas tidur dan suasana hati yang lebih baik, hal ini mengurangi gejala gagal jantung hanya setelah 8 minggu melakukannya.

Hubungan antara koneksi pikiran dan tubuh dengan bagaimana rasa syukur itu sendiri dapat memiliki manfaat ganda, misalnya, perasaan yang mengapresiasi dapat membantu kita untuk memiliki pikiran yang lebih sehat dan begitu juga dengan tubuh kita.

7. Kehidupan Yang Lebih Baik Secara Keseluruhan

Bersyukur

Selama dua dekade terakhir, semakin banyaknya bukti yang menunjukkan manfaat dari praktik bersyukur ini, pertimbangkan kutipan dari sebuah artikel yang berjudul “Thank you, No, Thankyou” di Wall Street Journal berikut ini :

…orang dewasa yang merasa bersyukur memiliki lebih banyak energi, lebih optimis, lebih banyak koneksi sosial dan memiliki lebih banyak kebahagiaan di bandingkan dengan mereka yang tidak, menurut penelitian yang telah dilakukan selama decade terakhir menunjukkan bahwa mereka yang tidak memiliki rasa bersyukur cenderung menjadi depresi, iri, serakah atau menjadi seorang pecandu alkohol.

Melinda Beck

Selain dapat meningkatkan kesejahteraan, sebuah penelitian psikologi juga menunjukkan bahwa dengan mempraktikkan rasa syukur, dalam hal ini rasa syukur terhadap suatu kekuatan yang lebih tinggi, dapat mengurangi tingkat stres, depresi dan gangguan kecemasan.

8. Rasa Syukur Meningkatkan Prestasi Atlet

prestasi

Studi dari peneliti Lung Hung menemukan bahwa tingkat rasa syukur dan terima aksih seorang atlet terhadap keberhasilan mereka dapat mempengaruhi tingkat kesejahrteraan mereka, lebih spesifiknya, para atlet remaja yang lebih banyak bersyukur dalam hidup juga menjadi lebih puas dan cenderung memiliki tingkat harga diri yang lebih tinggi.

Teri McKeever telah menerapkan temuan ini pada tim nya dan mendapatkan kesuksesan yang luar biasa, sebagai seorang pelatih renang dan menyelam untuk wanita di Universitas California, McKeever telah memasukkan latihan bersyukur dan berterimakasih ke dalam latihan timnya, sebagai hasilnya timnya memenangkan tiga kejuaraan nasional NCAA selama dua puluh tahun karir dia disana.

Di video ini bagaimana seorang Teri McKeever menerapkan rasa syukur pada timnya.

9. Moralitas Berbasis Neurologis Yang Lebih Kuat

moral

Neiroscience mulai mengeksplorasi apa dampak rasa syukur terhadap otak manusia yang penuh dengan misteri, satu studi mengukur respon otak terhadap suatu perasaan syukur dengan menggunakan alat fungsional magnetic resonance imaging (fMRI), para peneliti memancing dan menimbulkan rasa bersyukur pada partisipan dan menemukan bahwa raya bersyukur dan terima kasih telah meningkatkan aktivitas di suatu area otak yang berhubungan dengan moralitas, pemberian atau hadiah dan penilaian.

Temuan ini menarik dan tentunya memerlukan studi yang lebih lanjut, apakah rasa syukur terkait dengan moralitas? Jika demikian, ini sangat mendukung para pemikir-pemikir filosofis dan religius telah menggunakan rasa syukur pada pembentukan dan pemeliharan masyarakat dan komunitas mereka.

Referensi

Baca Juga Artikel Happiness Lainnya