Mengapa Bersyukur Terbukti Efektif

Bersyukur atau berterima kasih adalah sebuah tindakan tanpa pamrih, tindakan yang dilakukan tanpa syarat, untuk menunjukkan pada seseorang bahwa mereka telah dihargai, “Hadiah yang diberikan secara gratis” adalah salah satu cara untuk memahami arti dari tindakan ini.

Sebagai contoh, ketika seseorang sedang sedih dan Anda menulis sebuah pesan yang isinya untuk menghargai mereka, kemungkinan besar Anda tidak meminta sesuatu sebagai sebuah imbalan untuk perbuatan Anda terhadap orang tersebut, sebaliknya Anda mengingatkan mereka akan nilai yang mereka miliki dan mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas keberadaan mereka, pada saat ini Anda tidak sedang menunggu sebuah catatan untuk pengembalian dari orang tersebut.

Bahkan ketika kita tidak mengharapkan sebuah pengembalian atau balasan, kadang-kadang hal itu terjadi dengan sendirinya, rasa syukur bisa menular, dengan cara yang baik, seperti contoh tadi, ketika Anda yang sedang mengalamai down, mungkin orang tersebut akan juga menulis pesan untuk Anda.

Berikut adalah dua proses yang dapat di pengaruhi oleh rasa syukur.

1. Katarsis

Catharsis adalah sebuah proses dimana seorang indiveidu melepaskan emosi yang kuat, sebagai contoh, setelah mengalami sebuah peristiwa stres ataupun traumatis, menangis memberikan cara untuk terjadinya sebuah pelepasan yang kuat, menghasilkan sebuat aktivitas catharsis, catharsis bekerja dengan rasa syukur.

Untuk mengilustrasikan ini, pertimbangkan rasa bersalah yang berkaitan dengan “kegagalan” dalam memenuhi kewajiban, mungkin dalam situasi ini Anda akan mengekspresikan perasaan syukur kepada orang yang telah Anda kecewakan, dalam upaya untuk melepaskan rasa bersalah tersebut.

Perbuatan ini di maksudkan untuk menyampaikan penghargaan, meskipun ada kekecewaan yang baru saja terjadi, penggunaan rasa syukur dan berterimakasih berfungsi sebagai sebuah age catharsis (katarsis), dimana kedua puhak pada akhirnya akan merasa puas.

2. Timbal Balik

Timbal balik, sebagai sebuah konsep dari psikologi sosial, adalah tentang pertukaran tindakan, dalam hal ini adalah tentang pertukaran emosi positif, ketika seseorang melakukan sebuah tindakan bersyukur untuk orang lain, pada gilirannya, orang lain tersebut mungkin termotivasi untuk juga melakukan sesuatu yang baik untuk orang sebelumnya atau melanjutkan kebaikannya pada orang asing.

Bayangkan saat minum kopi atau makan bersama teman dan mereka dengan sopan untuk membayar, Anda mungkin berdalih untuk membagi tagihannya, tetapi mereka biasanya tetap bersikeras, Anda kemungkinan akan merasa bersyukur dan tugas Anda adalah membayar untuk makan siang selanjutnya, pada intinya, seperti inilah cara kerja timbal balik.

Sifat atau Kondisi

Rasa syukur dianggap sebagai suatu sifat (disposisi) atau suatu keadaan (menjadi).

Sebagai suatu sifat, seorang individu mempraktikkan rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002) dan itu akan di anggap sebagai sebuah kekuatan karakter seseorang dalam hal memiliki rasa syukur, sebagai sebuah sifat, rasa syukur dapat terus dilatih dan dikembangkan dengan praktik dan membangun kesadaran (Peterson, & Seligman, 2004).

Ketika seseorang mengalami suatu emosi yang kaya rasa dari seseorang yang mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih pada mereka, itu disebut dengan kondisi (Watkins, Van Gelder, & Frias, 2009), syukur adalah keduanya, sifat dan kondisi.

Keadaan atau kondisi bersyukur adalah pengalaman yang menyenangkan dan telah dipelajari sejak lama oleh para filsuf pada zaman kuno, bagian ini memberikan konteks yang lebih luas tentang bagaimana emosi ini berfungsi secara historis pada pola pikir orang dan masyarakat.

Referensi

Pengertian | Mengapa | Perspektif | Manfaat