Stoic

Kamu mungkin pernah mendengar istilah Stoic, Stoik atau Stoicism atau bahkan baru kali ini mendengar kata tersebut.

Stoic memang belum lama terdengar di bumi Indonesia kita ini , namun di dunia luar stoic sudah sangat familiar dan banyak di praktikkan oleh para tokoh-tokoh besar dunia.

Belakangan stoic juga marak di gunakan oleh para orang biasa di berbagai tingkatan sosial karena terbukti sangat membantu dan memberikan keseimbangan hidup penggiatnya.

Pengertian Stoic Dan Sejarah Yang Menyertai

pengertian stoic

Stoicism/stoikisme didirikan di Athena oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM, tetapi baru terkenal setelah dipraktikkan oleh orang-orang seperti Epictetus, Seneca dan Marcus Aurelius.

Stoic atau stoicism adalah atau terkait dengan sekolah filsafat yang didirikan oleh Zeno, yang mengajarkan bahwa orang harus bebas dari hasrat, tidak tergerak oleh sukacita atau kesedihan, serta tunduk tanpa mengeluh atas apapun yang terjadi dan tidak dapat dihindari.

Stoicism menyatakan bahwa kebajikan (seperti kebijaksanaan) adalah kebahagiaan dan penilaian harus didasarkan pada perilaku, bukan kata-kata.

Bahwa kita tidak dapat mengendalikan apapun yang terjadi apabila itu berasal dari luar diri kita (eksternal), kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri dan bagaimana cara kita mersesponnya.

Stoicism adalah salah satu gerakan filosofis baru dari periode Helenistik.

Nama ini berasal dari kata stoa poikilĂȘ yang berarti teras , teras yang terletak di Agora Athena yang dihiasi dengan lukisan mural yang indah, tempat para akademisi berkumpul, dan tempat belajar mengajar berada.

Para Stoa berpendapat bahwa perasaan seperti ketakutan atau kecemburuan (Nafsu seksual , atau cinta yang penuh gairah terhadap apa pun) muncul dari penilaian yang tidak tepat dari orang pada umumnya tetapi untuk orang yang bijak yaitu seseorang yang telah mencapai kesempurnaan moral serta intelektual hal ini tidak dialaminya.

Stoik pada masa Seneca dan Epictetus , menekankan pada doktrin (sudah menjadi pusat ajaran Stoa awal) bahwa orang bijak itu benar-benar kebal terhadap masalah , derita atau kemalangan dan bahwa sifat kebajikan sudah cukup untuk kebahagiaan.

Namun, itu tidak semerta-merta bahwa hanya orang yang bijak yang bebas sementara orang lainnya secara moral jahat.

Stoicism tidak peduli dengan teori-teori rumit tentang dunia , melainkan membantu kita mengatasi emosi yang merusak dan bagaimana bertindak dengan benar , bertindak bukan debat kusir.

Referensi

Pengertian | Tokoh Dunia | Cara